MAKALAH SENI TEATER ASIA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan Karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas karya ilmiah yang berjudul “Seni Teater Asia” yang dimana tugas ini ditujukan untuk menyelesaikan tugas Sekolah Menengah Kejuruan kami dengan mata pelajaran kami tentang Seni Budaya. Meskipun banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, tapi kami telah berhasil menyelesaikan karya ilmiah ini.
Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada ibu uci selaku guru bidang studi kami serta teman-teman yang juga sudah memberikan bantuan kepada kami baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada masyarakat dari hasil karya ilmiah ini. Oleh karena itu, kami berharap semoga karya ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yan berguna bagi kita bersama.
Kami menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya karya tulis ini. Kami berharap semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umummnya.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….2
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………3
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………..4
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………4
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………………………..4
1.3 Tujuan…………………………………………………………………………………………..4
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………….5
2.1 pengertian Teater………………………………………………………………………….5
2.2 Seni Teater Asia :…………………………………………………………………………5
1) Indonesia…………………………………………………………………………………………5
2) Malaysia…………………………………………………………………………………………..7
3) Kamboja………………………………………………………………………………………….8
4) Thailand………………………………………………………………………………………….9
5) Laos……………………………………………………………………………………………….10
6) Burma (Myanmar)…………………………………………………………………………11
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………….13
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………13
3.2 Saran ………………………………………………………………………………………….13
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………..14
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam latar sejarah Brandon menjelaskan bahwa ada empat periode budaya utama dalam sejarah Asia Tenggara. Periode prasejarah dari 2500 S.M. sampai 100 M., masa itu Asia Tenggara dihuni orang-orang dari utara yang mempraktekan keper-cayaan animisme. Seputar tahun 100 M sampai 1000 M, masuk ke seluruh wilayah di Asia kecuali Laos, Vietnam Utara, Philipina, dan pulau-pulau di sebelah timur Indonesia.
Pada masa ini merupakan dasar dari bentuk-bentuk seni pertunjukan klasik, terutama drama dan seni pertunjukan boneka. Pada masa 1300 sampai 1750 kita saksikan Malaya dan Indonesia (kecuali Bali) menjadi Islam, dan orang-orang berdarah Cina mengganti penghuni Malaya yang lebih awal sebagai penguasa Burma, Thailand, dan bagian-bagian Vietnam. Kegiatan seni pertunjukan pada masa ini men-capai tingkat perkembangan yang tinggi. Sekitar 1750 sampai akhir perang dunia II, Amerika dan Eropah mengusai Asia Tenggara. Sebagaian besar bentuk seni per-tunjukan populer masa kini tumbuh pada masa ini.
1.2 Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan teater?
Bagaimana sejarah perkembangan teater di Asia?
Apa saja jenis-jenis Teater Tradisional di Asia?
Unsur-unsur seni teater?
Nama-nama sutradara asia?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pengertian seni teater
Memberikan Informasi mengenai tentang Sejarah Perkembangan Teater.
Mengetahui jenis-jenis teater asia
Mengetahui tentang unsur-unsur pada teater
Untuk mengetahui nama-nama sutradara asia
Menyelesaikan Tugas sekolah tentang Seni Budaya
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 pengertian Teater
Kata “Teater” berasal dari kata yunani kuno yakni theatron, yang dalam bahasa inggris seeing place dan dalam bahasa Indonesia “tempat untuk menonton” adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain.
Teater merupakan salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsure utama yang menyatakan dirinya yang mewujudkan dalam suatu karya seni pertunjukan (pementasan) yang didukung dengan unsur gerak, suara, bunyi, dan rupa yang dijalin dalam cerita (lakon).
Beberapa macam arti teater:
Secara etimologis : Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
Dalam arti luas : Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
Dalam arti sempit : Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media : Percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dan sebagainya.
2.2 Seni Teater Asia :
1) Indonesia
Dalam menyorot seni pertunjukan di Indonesia Brandon melihat seni pertunjuk-an di Jawa dan Bali. Menurut saya sesungguhnya ini merupakan keterbatasan yang terdapat dalam buku ini, karena sebagaimana kita ketahui bahwa seni pertunjukan di Indonesia begitu banyak dan beragam, sedangkan yang dijelaskan disini tidak me-wakili semua daerah di Indonesia. Namun guna memahami keterpengaruhan dari India, Cina, negara-negara Islam dan Barat, menurut hemat saya sudah terwakili.
a. Bali
Seni pertunjukan Bali seperti yang diketahui tidak ada tandingannya di Asia Tenggara. Pada buku ini Brandon membicarakan pertunjukan yang berada dalam batasan drama, yaitu wayang kulit, wayang wong, topeng, arja, dan barong. Se-belum masuknya lapis budaya lain ke Bali, diyakini bahwa Bali sudah terlebih dahulu memiliki tradisi-tradisi lokal musik, tari, dan pembacaan cerita yang berhubungan erat dengan kepercayaan animisme Bali. Seni pertunjukan ini semakin terpupuk oleh tari dan kesusastraan India. Jejaknya dengan kuatnya unsur animisme dalam setiap pertunjukan di Bali masih dapat dilihat hingga saat ini. Sebagian besar karya kesu-sastraan Jawa-Hindu yang disusun antara abad ke-11 dan abad ke-15 kita kenal lewat menu-skrip di Bali yang sudah lama lenyap di Jawa Sendiri.
a) Wayang kulit Bali sama seperti model wayang kulit Jawa, akan tetapi terdapat perbedaan pada detail. Pertunjukan berlangsung sekitar empat jam, musik lebih seder-hana, figur-figur bonekanya dipahat kurang halus. Bentuk stilisasi pada wayang kulit Bali tidak sebanyak wayang kulit Jawa. Kebanyakan cerita diambil dari Mahabha-rata. Cerita yang paling istimewa di Bali adalah Calonarang. Cerita Calonarang mengandung nilai mistis dan ditampilkan apabila banyak penduduk desa yang sakit atau pada hari-hari magis yang penting.
b) Wayang wong Bali berasal dari dramatari Jawa istana, sedangkan di Bali men-jadi seni tradisi rakyat. Perbeda lain yang ditemukan adalah; dalam wayang wong Jawa tari menjadi penekanan penting sedangkan di Bali tekanan diletakkan pada resitasi bagian-bagian puitis yang panjang (lebih menentingkan action). Cerita yang dipertunjukan adalah cerita-cerita Ramayana.
c) Topeng di Bali sangat mirip dengan di Jawa. Pemerannya sedikit, biasanya dua atau tiga penari, jarang lebih dari lima. Karakter tokoh dari topeng Bali tidak meng-gunakan dialog, berbeda dengan di Jawa. Topeng Bali mendramatisir cerita-cerita Gadjah Mada, dan Raja Hayam Wuruk.
d) Arja adalah seni pertunjukan yang paling populer di Bali, mengangkat cerita-cerita siklus Panji, Ramayana, Mahabharata, dari roman-roman Jawa, dan bahkan dari cerita percintaan Cina. Pertunjukanya sama dengan operetta. Cerita dinyatakan dengan tarian, hampir tidak ada dialog akan tetapi banyak dibumbui oleh lawakan. Arja dimainkan oleh rombongan profesional dan merupakan satu-satunya tipe seni pertunjukan di Bali yang mempergunakan layar untuk menyembunyikan para pemain, dan lewat layar itu pula tempat masuk pemaian dibuat.
e) Drama tari barong diberi juga nama tari tidak sadarkan diri, karena pada adegan akhirnya orang-orang desa tidak sadarkan diri dan membalikkan keris-keris mereka ke diri sendiri. Cerita tentang konflik kekuatan jahat dan baik yang mengelola hidup yang dipercaya oleh orang Bali. Orang Bali menyakini bila penyakit atau ke-celakaan terjadi itu karana tidak adanya keseimbangan antara dua kekuatan tersebut. Untuk membuat keseimbangan maka dipertunjukan drama tari barong.
2) Malaysia
Orang Melayu di jasirah Asia Tenggara memiliki kesamaan dengan ras Jawa, Sunda dan Bali. Mereka keturunan Melayu dan memegang kepercaraan animistik yang sama, serta sama-sama pernah berada dibawah pengaruh kebudayaan Hindu, ke-mudian menerima Islam. Kesenian yang benar-benar lahir dari Malaysia adalah bangsawan, sedangkan wayang kulit dipinjam dari Jawa, opera Cina dicangkok dari beberapa daerah di Cina Selatan. Selama abad ke-13 dan ke-14 sebagaian jasirah Me-layu diperintah oleh raja-raja Majapahit dari Jawa.
BACA JUGA: makalah ketahanan nasional indonesia
Di Malaysia dikenal tiga macam pertunjukan wayang; wayang jawa, wayang melayu dan wayang siam. Dua yang pertama adalah adaptasi langsung dari wayang kulit Jawa. Lakon-lakon dipertunjukan dengan menggunakan bahasa Melayu dan mu-sik yang digunakan persis sama dengan ensambil musik Jawa. Perbedaan yang paling menyolok adalah pada bentuk wayang; wayang Jawa mempunyai dua sisi lengan yang bisa digerakkan dan bentuk yang lebih distilisasi sedangkan wayang melayu ha-nya memiliki satu sisi lengan yang bergerak dan bentuk yang tidak distilisasi. Lakon-lakon yang dipentaskan adalah lakon-lakon Mahabharata dan Ramayana dari repertoar wayang kulit, lakon-lakon Panji dari repertoar wayang gedog Jawa dan bah-kan lakon-lakon Islam tentang Amir Hamzah.
a) Wayang kulit siam merupakan adapatasi dari figur-figur dari pemain panto-mim bertopeng Khon Thailand, akan tetapi bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu. Ini merupakan adaptasi dari kebudayaan Thailand dengan mencampur-kannya dengan tradisi melayu. Hal ini terlihat pada awal pertunjukan; dalang terlebih dahulu menyanyikan doa-doa Melayu dengan bahasa Melayu kemudian dilanjutkan dengan doa-doa Tahiland diucapkan dalam bahasa Thai.
b) Seni pertunjukan lain yang adalah opera Cina. Ada tiga bahasa dalam opera yang masing-masing digunakan sendiri-sendiri, yaitu; Teochiu, Hokkien, dan Canton. Kesemua itu merupakan bahasa yang digunakan oleh kelompok Cina yang ber-imigrasi. Sekarang opera Cina dipertunjukan dengan menggunakan bahasa masing-masing tergantung kepada komunitas pelaksananya.
Orang Melayu bereaksi terhadap wayang kulit dan opera Cina dengan cara yang berbeda. Pertunjukan wayang kulit diadaptasi ke kebudayaan mereka dengan me-lakukkan penyesuaian. Namun tidak demikian halnya dengan opera Cina. Opera Cina adalah pertunjukan yang hampir sepenuhnya milik komunitas Cina di Malaysia.
c) Bangsawan berkembang di antara orang-orang Melayu pada saat ini. Ini adalah bentuk seni pertunjukan populer dengan mengambil cerita-cerita dari sejarah Melayu, roman-roman Arab serta kesusastraan Islam, dan dari banyak cerita-cerita kontempo-rer. Bangsawan banyak dipentaskan di jasirah Malaya, di Singapura, di Sumatera, di Kalimantan, di Sunda, dan di Jawa. Di Indonesia bangsawan mempengaruhi ketoprak dan sandiwara Sunda.
3) Kamboja
Sejumlah tarian yang nampak pada desa-desa di Kamboja mungkin berasal dari masa pra-sejarah, salah satunya adalah Trott (tari berburu rusa). Pemain-pemain ber-topeng menggambarkan pemburu, raksasa, lembu jantan, wanita-wanita dan rusa. Dengan diiringi musik gendang, mereka menarikan cerita tentang pemburu rusa. Di-percaya tari ini dipertunjukan sebelum berburu untuk memohon restu dari roh ani-mistis.
Tradisi utama dari dramatari Kamboja berasal dari pengaruh India. Kamboja adalah penganut Brahmanisme Hindu paling tidak pada abad ke-4. Rombongan tari klasik satu-satunya di Kamboja adalah Balet Istana yang ditopang oleh Rumah Tangga Istana di Phnom Penh. Baru-baru ini Balet Istana berisi pula satu kontingen penari pria yang dapat mempertunjukan pantomim bertopeng (dikenal sebagai la-kon kawl). Lakon kawl berhubungan dengan Khon Thailand. Lakon ini merupakan kreasi orang Thailand yang dibawa ke Kamboja.
Bentuk ketiga dari seni pertunjukan istana Kamboja yang didukung oleh istana Thailand adalah lakon boneka bayang-bayang. Di Thailand lakon ini dikenal se-bagai nang yai. Pertunjukan bayang-bayang (wayang kulit) dan pantomim bertopeng merupakan genre-genre yang akrab dengan memainkan cerita Ramayana. Kedua la-kon ini hanya dimainkan oleh laki-laki dan bersifat seremonial.
Lakon Bassac adalah pertunjukan populer dari Kamboja. Pertunjukan ini mengambil nama dari distrik yang berdekatan dengan Sungai Bassac di Vietnam se-latan tempat asalnya. Lakon bassac ini dicipta oleh Kamboja yang hidup dilingkari oleh budaya Vietnam. Dapat dikatakan bahwa lakon-lakon dipengaruhi oleh seni per-tunjukan Vietnam. Lakon bassac ini merupakan satu lakon yang di dalamnya terdapat elemen-elemen teaterikal berdasarkan India dan Cina, kemudian dicampur dengan kadar yang hampir sama. Disamping seni pertunjukan di atas, saat ini di Kamboja berkembang drama-drama yang bergaya barat, sangat banyak lakon-lakon yang di-tulis, salah satunya oleh Pangeran Sihanouk yang sangat tertarik pada seni pertunjuk-an Barat.
4) Thailand
Lakon jatri adalah bentuk seni pertunjukan Thailand tertua dan berasal dari ritual-ritual animistik. Jatri berarti ahli magi, dan pemain-pemain jatri selalu dikira memiliki kekuatan magi. Tari adalah bagian dari persembahan kepada roh atau ber-fungsi sebagai pendahuluan pada berbagai upacara animistik di Tahiland. Lakon jatri adalah salah satu tari yang berkembang menjadi bentuk dramatik, setelah menyerap dari tari India dan hal-hal dalam agama Buddha. Pengaruh India dapat ditemukan pada gerak tari yang disebut Natya Sastra, penari membengkokkan tubuh kebelakang sampai kepala nampak diantara tungkainya. Cerita yang dipertunjukan dalam lakon jatri adalah cerita Jataka Buddha, yaitu Manora.
BACA JUGA: makalah ketahanan nasional indonesia
Lakon jatri ini berkembang selama dinasti Ayudhaya pada abad ke-14, dari tari rakyat menjadi bentuk seni populer yang disebut dengan lakon nok. Nok berarti ‘di luar’ atau ‘selatan’, adalah kata yang digunakan untuk menyebutkan orang-orang dari propinsi selatan Thailand. Karena itu lakon nok berarti drama dari propinsi selatan. Gendre seni pertunjukan lain di Thailand adalah tari Thailand klasik yang muncul pada tahun 1431 ketika bangsa Thailand menduduki angkor dan merampas rombongan tari istana Khmer.
Di Thailand para penari wanita dan pria terpisah. Hal ini lebih disebabkan karena wanita adalah selir-selir raja, jadi dilarang menari ber-sama dengan penari pria. Tipe utama dari tari klasik wanita di Tahiland adalah lakon nai yang secara umum dipercaya sebagai satu singkatan dari lakon nang nai atau ‘drama dari wanita-wanita istana’ (nang berarti ‘wanita’ dan nai berarti ‘di dalam’ yang menunjukkan secara tidak langsung di dalam istana).
Bentuk pertunjukan lain yang dipertunjukan oleh pria adalah Nai yai (drama bayang-bayang). Nai yai dan khon (pantomim bertopeng) adalah drama penting dan keduanya mendramatisir episode-episode dari Ramayana dan yang kedua dipercaya berkembang dari yang pertama. Istilah nai yai berarti ‘boneka besar’, cocok untuk menggambarkan satu genre yang boneka-bonekanya dibuat mendekati ukuran manu-sia. Asal-usul nai yai masih gelap tapi banyak sarjana Thailand percaya, bahwa dra-ma bayang-bayang datang ke Thailand dari India, lewat Jawa dan Malaya.
Sumber yang mengatakan bahwa pantomim bertopeng khon berkembang dari Nai yai cukup jelas. Seputar tahun 1515, Raja Rama Tibodi II mengorganisasi per-tunjukan-pertunjukan besar di semua jenis perayaan hari ulang tahunnya yang ke-25. Pada masa itu pertunjukan khon diselenggarakan, para penari meniru gerak yang di-lakukan oleh para dalang Nai yai selagi memainkan boneka-boneka besar. Para penari menggunakan rias muka tebal yang kemudian dijadikan topeng-topeng yang diper-gunakan pada khon sekarang. Cerita-cerita khon di sebut chud, mengacu pada satu ‘set’ boneka yang disebut ton atau episode. Raja-raja Thailand sangat antusias melestarikan lakon nai, khon, dan nang yai. Mereka tidak hanya menghidupi rom-bongannya akan tetapi juga mendorong para senimannya untuk menuliskan lakon-lakon mereka, salah satunya adalah versi Ramayana.
Menjelang abad ini lakon nok mulai diganti oleh sebuah genre pertunjukan baru yang disebut likay,Kata likay merupakan perombakan dari digar (zikir?), dari sekte Syiah dari agama Islam. Digar dinyanyikan untuk mendapatkan restu dari Allah atas nama raja. Rombongan-rombongan profesional Thailand mengambil nama itu dan merombaknya menjai likay, dalam upaya mengambil keteneran digarsaat itu.
BACA JUGA: makalah ketahanan nasional indonesia
Seni pertunjukan boneka golek juga dikenal di Thailand Tengah. Rambongan ini main di pekan rakyat, festival kuil, dan untuk peristiwa yang memanggil hiburan. Golek yang didandani seperti penari-penari lakon nai dan khon, biasanya menampil-kan varian-varian cerita episode-episode Ramayana. Pertunjukan ini sekarang sudah langka dan mungkin tidak akan bertahan lagi, karena pemainnya sudah tua dan tidak ada regenerasi.
5) Laos
Seni pertunjukan asli di Laos adalah mahlom, merupakan nyanyian rakyat tentang ’tempat-tempat bercinta’. Tari istana Kamboja diperkenalkan ke istana Laos oleh bangsa Khmer. Dalam dasawarsa terakhir likay dari Thailand diadaptasi ke da-lam musik khen, membentuk sebuah seni pertunjukan populer Laos.
Khen (reed-organ) di Laos berasal dari masa-masa prasejarah. Asal mulanya di Asia tidak diketahui, instrumen ini ditemukan di Cina yang disebut sheng, di Jepang dikenal sebagai sho, dan dipedalaman Kalimantan orang menyebutnya Kledi. Khen adalah instrumen nasional Laos, disekitarnya seni bernyanyi mahlom ber-kembang. Pada mahlom gaya kuna, seorang pria menyanyi diringi dengan khen. Penyanyinya adalah seorang pengembara (thoubadour) yang menggambara di sekeli-ling pedesaan dimana dia diundang. Nyanyian berisi nilai-nilai duniawi dan me-rangsang percintaan seksual, yang diambil dari gosip-gosip lokal, berita-berita istana dan fragmen Ramayana dan cerita Jataka. Pada beberapa saat kemudian diiringi oleh penyanyi wanita dan pada saat ini mahlom berisi sebuah bentuk puisi erotis yang tinggi, dinyanyikan oleh seorang penyanyi pria dan seorang penyanyi wanita yang di-iringi oleh khen.
Tradisi mengatakan tari istana, cerita Jataka, dan Ramayana diperkenalkan ke Laos dari istana Khmer oleh Pangeran Fa Nguan pada tahun 1353. Pengaruh India mencapai Laos sebelum ini. Likaydiperkenalkan ke Laos pada awal abad ke-20. Sekitar 1925, khen mengganti instrumen-isntrumen Tahiland dan nyanyian mahlom mulai menggunakan bahasa Laos, sedangkan cerita, kostum, dan praktik pemang-gungan tari likay tetap dipertahankan. Bentuk pertunjukan baru ini kemudian dikenal dengan banyak nama, tetapi yang paling terkenal adalah mahlam luang atau mahlom.
6) Burma (Myanmar)
Burma banyak memiliki tradisi tari yang dipertunjukkan untuk mendapatkan simpatik dari satu atau lebih dari 37 nat yang dikenal di Burma. Burma banyak ter-pengaruh oleh budaya India kerena sangat berkatan. Pada abad ke-16, tarian Burma mendapat pengaruh dari India, yang dipertunjukan oleh rombongan-rombongan profesional. Mereka menamakan diri dengan ‘penari-penari roh’ dan tipe pertunjukan mereka disebut nibhathkin atau ‘pertunjukan roh’. Sebenarnya pemin-pemain ini adalah para penghibur keliling yang menggunakan aktifitas agama sebagai pelindung bagi aktifitas sekuler mereka. Seorang badut adalah tokoh utama pada sebagian besar pertunjukan roh Burma.
Nat pwe yang sekarang ada adalah perkembangan dari seni pertunjukan di atas. Saat ini pertunjukan nat pwe lebih mementingkan artistik berbeda dengan dahulunya. Pada nat pwe saat ini, tari istana dipertunjukan oleh seorang nat kawaw (‘istri nat’), medium-penari profesional yang lewat tari memanggil turun satu roh nat ke dalam dirinya untuk maksud meramal hal-hal yang akan datang. Kemampuan menari para penari ini tidak begitu dihargai, yang lebih diperlukan adalah kemampuannya men-ceritakan keberuntungan.
BACA JUGA: makalah ketahanan nasional indonesia
Drama istana Burma berasal dari tahun 1767 ketika pegawai-pegawai istana Thailand yang ditangkap memperkenalkan drama istana mereka. Bangsawan Burma yang terpesona oleh kelembutan dan kehalusan seni pertunjukan ini kemudian mengambilnya. Lakon-lakon Thailand dipanggungkan kembali. Lakon yang berdasar-kan Ramayana dan petualangan Inoa (Panji) di terjemahkan secara hafiah dari bahasa Thai ke dalam bahasa Burma. Akan tetapi pada masa-masa berikutnya para penyair Burma telah mengarang syair-syair mereka sendiri.
Drama istana merosot ketika kedatangan Inggris ke Burma di pertengahan abad ke-19. Peninggalan terakhir dari drama istana Burma tampak pada pertunjukan-per-tunjukan klasik yang disebut zat, di dalamnya tari dan musik serta busana meng-ingatkan sisa-sisa dari dramatari Burma-Thailand klasik. Pertunjukan ini banyak di-tampilkan oleh rombangan zat pwe di Burma Tengah dan Selatan.
Orang-orang Burma juga memiliki seni pertunjukan marionet. Aslinya adalah sebuah tari sederhana yang menunjukkan tingkah laku binatang. Binatang-binatang menari serta berparade untuk penonton anak-anak. Menjelang abad ke-20, tidak lazim lagi mementaskan cerita Jataka dalam zat pwekarena dianggap bertentangan dengan hukum ke tujuh.
2.3 Unsur-unsur seni teater
1. Aktor
Aktor merupakan penunjang utama dalam teater. Dan aktor juga menghasilkan beberapa unsur diantaranya, unsur gerak dan suara.
2. Naskah
Naskah atau bisa disebut lakon dalam teater juga merupakan penunjang yang melahirkan berbagai unsur-unsur yang ada yaitu, aktor, pentas, sutradara, dan kostum.
3. Pentas
Pentas merupakan salah satu unsur yang menghadirkan keestetikan sebuah pertunjukan, karena pentas merupakan juga menghadirkan unsur penunjang yang di dalamnya ada property, tata lampu, dan alat-alat yang lain yang berkenaan dengan pentas.
4. Sutradara
Sutradara merupakan unsur yang mengarahkan semua unsur dalam sebuah seni pertunjukan. Mengarahkan seorang aktor, membedah naskah, melahirkan ide-ide tentang pentas yang mau digunakan.
5. Kostum
Kostum adalah unsur penunjang yang membuat seorang aktor bisa kelihatan membawan wataknya yang bagaimana.
Unsur internal tersebut menyangkut bagaimana didalam pemintasan tersebut, karena bisa dikatakan unsur internal merupakan hatinya teater, bila tidak ada unsur internal tidak akan tercipta suatu pemintasan. Tetapi perlu diketahui pula unsur internal tidak akan bisa berjalan tanpa unsur eksternal.
1. Unsur Eksternal Teater
Unsur eksternal yaitu mengurus segala yang berkenaan dengan di luar pemintasan. Yaitu staf produksi, karena staf produksilah yang melakukan segala perlengkapan yang menyangkut pemintasan.
2. Staf Produksi
Staf produksi menyangkut manager tingkat produser atau pimpinan produksi sampai segala bagian dibwahnya (Tjokroatmojo dkk ). Adapun tugas masing-masing:
Produser/ pimpinan produksi
a. Mengurus produksi secara keseluruhan
b. Menetapkan personal (petugas), angran biaya, program kerja fasilitas dan sebagainya.
3. Derektor/ sutradara
a. Pembawa naskah
b. Koordinator pelaksanaan pementasan
c. Menyiapkan aktor
4. Stage manager
a. Pemimpin panggung
b. Membantu sutradara
5. Desainer
Menyiapkan aspek-aspek visual:
a. Setting (tempat, suasana)
b. Property (perlengkapan pentas)
c. Lighting (tata lampu)
d. Costume (tata busana)
e. Sound (pengeras suara)
6. Crew
a. Bagian pentas
b. Bagian tata lampu
c. Bagian perlengkapan
d. Bagian tata suara musik
7. Sutradara
Seorang sutradara memilih naskah, memilih aktor, melatihnya, dan lain sebagainya.
Asisten sutradara (asdos)
Membantu segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang sutradara
Bagian-bagian
a. Bagian make up : menghias aktor
b. Bagian lighting : mengatur tata cahaya pentas
c. Bagian property : menyiapkan segala properti yang dibutuhkan
d. Dan lain sebagainya : tergantung kebutuhan produsi
2.4 Sutradara seni teater asia
Ratna Riantiarno (Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 23 April 1952) adalah aktris, manajer seni pentas, aktivis teater Indonesia.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater
BACA JUGA: makalah ketahanan nasional indonesia
tradisional lahir. Tetaer juga dikenal dengan seni yang kolektif di mana dalam sebuah tetaer tidak terlepas dari yang namanya sutradara sebagai pengkordinasi pementasan. Sehingga menjadi seorang sutradara harus menguasai apa-apa yang harus di lakasanakan karena baik/tidaknya pementasan tergantung dari seorang sutradaranya. Sehingga dalam seni teater juga memiliki peran yang sangat penting dalam lingkup sosisal. Ini sudah jelas karena yang namanya seni pertunjukan pasti dipertunjukan di depan orang banyak dalam hal ini salah satu contohnya adalah masyarakat. Seni teater bisa dijadikan media penyampaian segala bentuk rasa atau argumen yang berkaitan dengan kehidupan sosial.
3.2 Saran
Makalah ini merupakan bagian dari media pembelajaran, maka dengan itu kepada semua pihak bisa menggali ilmunya ( khususnya ilmu tentan seni teater ) dengan mendalami isi makalah ini.
Khususnya kepada kaum muda agar seni teater tidak hilang begitu saja tetapi bisa diwariskan kepada segenap penerus bangsa sehingga negara Indonesia bisa disebut sebagai salah satu negara yang hebat dalam dunia seni.
Daftar Pustaka
http://karyailmiahbn2013.files.wordpress.com/2013/02/seni-teater-by-mutiara-mc-moran-rambet.pdf
http://i-makalah.blogspot.com/2013/01/makalah-seni-teater.html
http://www.febrian.web.id/search/label/Seni%20budaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Teater
http://www.teaterpetass.com/2013/02/10-bentuk-teater-tradisional-di.html
